Al-Ghazali adalah kambing hitam yang nyaman karena ia tunggal, intelektual, dan mudah ditunjuk—jauh lebih mudah daripada membongkar sebab-sebab struktural yang berlapis dan tak nyaman. Begitu pula filsafat dan studi keagamaan hari ini: keduanya sasaran empuk karena tampak “tidak produktif”, padahal yang sebenarnya gagal adalah proyek industrialisasi yang tak pernah matang. Dalam kedua kasus, menuding gagasan atau disiplin ilmu adalah cara murah untuk menghindari pekerjaan berat membenahi fondasi.
Lalu, apa solusinya? Pertama, kembalikan persoalan ini ke akarnya: bangun kembali basis industri. Tanpa kebijakan industrialisasi yang serius menjaga kontribusi manufaktur pada kisaran 20-25 persen PDB, melindungi industri padat karya, dan menahan banjir impor barang jadi-reformasi kurikulum apa pun hanya akan memindahkan antrean pengangguran dari satu jurusan ke jurusan lain. Persoalannya terletak pada penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar pembenahan kualitas lulusan.
Kedua, berhenti mempertentangkan ilmu murni dan ilmu terapan. Vokasi dibutuhkan, tetapi filsafat, matematika dasar, sejarah, dan studi keagamaan adalah investasi jangka panjang bagi daya pikir kritis, etika publik, dan kapasitas inovasi yang justru menjadi pembeda bangsa-bangsa maju. Negara seperti Vietnam memperkuat vokasi tanpa mematikan sains dasar bukan memilih satu mengorbankan yang lain.
Ketiga, jembatani, jangan pangkas. Perluas program magang yang bermutu, pusat karier kampus, riset terapan yang bermitra dengan industri, serta jalur reskilling dan upskilling. Tujuannya bukan menyeragamkan semua sarjana menjadi tenaga siap pakai, melainkan menyambungkan keragaman keahlian dengan ekonomi yang cukup luas untuk menampungnya.
Sejarah sudah memberi pelajaran. Menyalahkan al-Ghazali tak pernah memajukan sains Islam sehari pun, sebagaimana menyalahkan filsafat tak akan membuka satu pabrik pun. Yang dibutuhkan bukan kambing hitam, melainkan keberanian membenahi fondasi.
Penulis: Fuad Nawawi Ketua Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon






