REDAKSI.pesanjabar.com – Pergantian tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah, bukan hanya penanda bertambahnya angka dalam kalender Hijriah, tetapi juga menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi mendalam terhadap perjalanan hidup yang telah dilalui. Tahun baru Islam seharusnya tidak dimaknai sebatas perayaan seremonial, melainkan sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan ke arah yang lebih baik.
Penanggalan Hijriah sendiri lahir dari salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perkembangan Islam, yakni hijrahnya Nabi Muhammad bersama para sahabat dari Kota Makkah menuju Madinah. Hijrah tersebut bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan simbol perjuangan, keberanian, pengorbanan, serta tekad kuat untuk mempertahankan nilai-nilai kebenaran di tengah berbagai tekanan dan tantangan. Dari peristiwa inilah umat Islam diajarkan bahwa perubahan besar dalam hidup sering kali menuntut keberanian untuk meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Dalam kehidupan saat ini, makna hijrah tetap relevan. Hijrah bukan hanya dimaknai sebagai perubahan spiritual semata, tetapi juga perubahan sikap, cara berpikir, serta tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, tantangan moral, sosial, hingga perkembangan teknologi sering kali membuat manusia kehilangan arah dan nilai-nilai kemanusiaan. Momentum 1 Muharram mengingatkan bahwa setiap manusia perlu berhenti sejenak untuk bertanya pada dirinya sendiri: sudah sejauh mana kehidupan ini membawa manfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
Semangat hijrah juga mengajarkan pentingnya memperbaiki kualitas diri melalui pendidikan, memperkuat integritas, membangun kedisiplinan, serta menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama. Perubahan tidak akan datang hanya dengan harapan atau doa semata, tetapi harus disertai kesadaran dan usaha nyata. Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai hijrah juga bisa dimaknai sebagai dorongan untuk bersama-sama memperbaiki berbagai persoalan sosial, mulai dari ketimpangan ekonomi, rendahnya kualitas pendidikan, hingga menurunnya semangat persatuan.
Allah SWT telah menegaskan pentingnya perubahan dalam firman-Nya pada Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 11:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan selalu berawal dari diri sendiri. Tahun baru Islam hendaknya menjadi titik awal bagi setiap individu untuk melakukan evaluasi, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki hubungan dengan Tuhan, serta meningkatkan kontribusi positif bagi kehidupan sosial.
Pada akhirnya, 1 Muharram 1448 Hijriah mengajarkan bahwa hijrah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sebuah spirit perubahan yang harus terus hidup dalam setiap langkah kehidupan manusia. Menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin adalah bentuk hijrah yang paling nyata. Sebab masa depan yang lebih baik hanya akan lahir dari keberanian untuk berubah hari ini.
Penulis: Akhmad Basuni






