Filsafat, Al-Ghazali, dan Industri yang Tak Kunjung Tumbuh

“Bukan kampus yang kekurangan lulusan siap kerja, tetapi negeri ini yang kekurangan lapangan kerja bermartabat.” (Fuad Nawawi)

Konsekuensinya jelas, ketika industrialisasi berjalan lambat, kelas menengah pekerja formal tidak berkembang, sementara pekerjaan yang layak semakin menjadi sumber daya yang langka. Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) akhir 2025 bahkan menemukan gejala yang lebih mengkhawatirkan: puluhan ribu lulusan sekitar 45 ribu sarjana dan 6 ribu lulusan pascasarjana, masuk kategori pencari kerja yang putus asa, berhenti melamar karena yakin tak ada lowongan yang sepadan. Mereka bukan korban salah jurusan; mereka korban ekonomi yang tak menciptakan ruang bagi keahlian apa pun. Menyalahkan filsafat dalam situasi seperti ini sama dengan menyalahkan penumpang karena kereta tak kunjung datang.

Diagnosis ini memang masih diperdebatkan. Kementerian Perindustrian, misalnya, membantah label deindustrialisasi dengan menunjuk data BPS yang memperlihatkan rasio PDB industri pengolahan justru naik tipis dari 17,92 persen pada triwulan II-2022 menjadi 19,20 persen pada triwulan I-2026. Perdebatan ini sah dan penting. Namun bahkan dalam versi paling optimistis sekalipun, tak ada yang menyebut industri kita tumbuh cukup cepat untuk menampung jutaan angkatan kerja baru setiap tahun. Persoalan strukturalnya tetap tak tergoyahkan.

Kambing hitam terhadap prodi keilmuan murni mengulang pola lama yang menimpa Abu Hamid al-Ghazali. Dalam imajinasi populer – dipopulerkan astrofisikawan Neil deGrasse Tyson, dan ditulis serius oleh figur seperti Steven Weinberg serta Robert R. Reilly dalam The Closing of the Muslim Mind-al-Ghazali dituduh menjadi titik balik kemunduran peradaban Islam. Kitabnya, Tahāfut al-Falāsifah, dianggap “menutup pintu nalar” dan membunuh tradisi sains rasional. Narasinya rapi, persuasif, dan memikat: dunia Islam memimpin sains, lalu al-Ghazali menyerangnya, lalu kegelapan datang.

Masalahnya, narasi yang rapi sering kali keliru. Sejarawan sains George Saliba, dalam Islamic Science and the Making of the European Renaissance, menunjukkan bahwa sains justru terus berkembang setelah era al-Ghazali. Abad-abad setelahnya melahirkan Ibn al-Nafis yang memetakan sirkulasi darah paru-paru, mazhab astronomi Maragha dengan Nasiruddin al-Tusi dan Mu’ayyad al-Din al-Urdi, hingga karya-karya yang menurut sejumlah sejarawan turut menyiapkan jalan bagi Copernicus. Bahkan dalam artikel The Myth of al-Ghazālī and Islamic Decline: A Historical Clarification and Review” (Jurnal Tsaqafah, 2024), penulisnya menegaskan al-Ghazali tidak menolak sains; ia menolak klaim metafisis tertentu para filsuf, sembari menyatakan bahwa ilmu-ilmu alam berdiri di luar wilayah doktrin agama. Proyek besarnya, Iḥyā’ ‘Ulūmuddīn, justru bermaksud menghidupkan menyegarkan kembali ilmu-ilmu keagamaan yang ia rasa telah kering, bukan memadamkan akal. Adapun kemunduran yang sesungguhnya datang belakangan dan oleh sebab struktural: pergeseran jalur perdagangan dunia setelah penemuan Benua Baru, invasi Mongol yang meluluhlantakkan Baghdad pada 1258, dan hilangnya pusat gravitasi ekonomi dari dunia Islam.

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *