“Ketika Ketua DPD Golkar Jawa Barat secara langsung meminta Elita melanjutkan kepemimpinan, tentu ada ekspektasi politik yang besar. Artinya, kepemimpinan Elita tidak hanya dituntut menyelesaikan persoalan internal organisasi, tetapi juga harus mampu menjaga dan meningkatkan kontribusi Golkar di Subang,” katanya.
Suryaman melihat modal politik Elita sebenarnya cukup kuat. Pada Pemilu 2024, Partai Golkar mampu memperoleh 10 kursi DPRD Kabupaten Subang, sementara Elita sendiri berhasil melangkah ke DPR RI. Di tingkat daerah, mesin politik Golkar juga menjadi bagian dari kemenangan pasangan Reynaldy Putra Andita BR dan Agus Masykur dalam Pilkada Subang 2024.
Namun, menurutnya, modal tersebut tidak boleh membuat Golkar terlena.
“Sepuluh kursi DPRD dan keberhasilan mengantarkan kader ke Senayan merupakan modal politik yang cukup penting. Tetapi politik selalu bergerak. Prestasi Pemilu 2024 tidak otomatis menjadi jaminan keberhasilan pada 2029,” jelasnya.
Justru, Suryaman menilai target Elita untuk meningkatkan perolehan kursi Golkar hingga dua kali lipat pada Pemilu 2029 merupakan target yang cukup ambisius sekaligus menjadi indikator yang akan diuji publik.
“Kalau targetnya dua kali lipat dari 10 kursi, berarti Golkar berbicara tentang target sekitar 20 kursi. Itu bukan target yang ringan. Diperlukan konsolidasi yang luar biasa, kaderisasi yang kuat, rekrutmen calon legislatif yang kompetitif, strategi pemenangan yang terukur, serta kemampuan membaca perubahan perilaku pemilih,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar Golkar Subang bukan hanya menjaga soliditas struktur internal, tetapi juga memastikan partai tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.











