Filsafat, Al-Ghazali, dan Industri yang Tak Kunjung Tumbuh

“Bukan kampus yang kekurangan lulusan siap kerja, tetapi negeri ini yang kekurangan lapangan kerja bermartabat.” (Fuad Nawawi)

REDAKSI.pesanjabar.com – Setiap kali Badan Pusat Statistik merilis angka pengangguran, sebuah ritual lama berulang. Jari-jari menuding program studi yang dianggap “tidak laku”: filsafat, sastra, ilmu sosial murni, dan studi keagamaan, termasuk rencana dari Kemendiktisainstek untuk menutup berbagai program studi. Narasinya selalu sama, bahwa prodi-prodi itu mencetak sarjana yang tidak nyambung dengan kebutuhan industri, sehingga wajar bila mereka menganggur. Solusinya pun terdengar masuk akal: alihkan minat ke vokasi, ke jurusan yang “siap kerja”, ke keterampilan yang bisa langsung dijual ke pasar. Persoalannya, premis itu susah dipertahankan saat kita membaca data dari BPS.

Per Februari 2026, BPS mencatat 7,35 juta orang menganggur. Yang menarik bukan totalnya, melainkan komposisinya. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi justru disumbang lulusan Sekolah Menengah Kejuruan mencapai 8,45 persen disusul lulusan SMA sebesar 6,55 persen. Adapun jenjang sarjana, yang digabung dengan D-IV, S-2, dan S-3, menyumbang 5,38 persen. Artinya, lulusan yang paling “disiapkan untuk industri” justru paling banyak yang tidak terserap. Pola ini bukan anomali setahun. Sejak beberapa periode terakhir, kejuruan konsisten menempati puncak. Bila kurikulum filsafat yang “tidak connect” adalah biang keladi pengangguran sarjana, bagaimana menjelaskan bahwa lulusan teknik mesin, otomotif, dan tata boga yang dirancang menempel pada dunia kerja, menganggur dalam proporsi yang lebih besar?

Jawabannya tidak berada di ruang kuliah, melainkan di lantai pabrik yang tak pernah cukup banyak dibangun. Akar persoalannya adalah sisi permintaan, bukan sisi pasokan. Indonesia mengalami apa yang oleh para ekonom disebut deindustrialisasi dini (premature deindustrialization): kontribusi sektor manufaktur terhadap ekonomi menyusut sebelum negeri ini sempat menjadi kaya. Kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto yang pernah berkisar 30 persen menjelang Reformasi kini tinggal sekitar 18-19 persen. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mencatat tren penurunannya: dari sekitar 21,3 persen pada 2014 menjadi kisaran 17 persen pada 2025. Ekonom senior INDEF, mendiang Faisal Basri, berulang kali mengingatkan bahwa pertumbuhan manufaktur kita nyaris tak pernah melampaui pertumbuhan PDB – mesin penyerap tenaga kerja itu kehabisan bahan bakar sebelum sempat berlari.

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *