“Bapak dan Ibu adalah perwakilan dari masyarakat. Kami perlu mendengar apakah semua kegiatan kita sudah berjalan dengan baik. Karena itu, masukan dari Bapak dan Ibu sangat penting agar pembangunan dan pelayanan publik dapat kita selenggarakan dengan lebih baik,” tuturnya.
Ke depan, Fajar mengatakan dirinya akan lebih fokus menjalankan tugas pemerintahan, terutama dalam bidang pembangunan, pelayanan publik, dan penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Sumedang.
Ia juga mengajak organisasi kemasyarakatan menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kondusivitas daerah, memperkuat persatuan, serta mengawal pembangunan.
“Ke depan saya akan fokus pada pembangunan di Kabupaten Sumedang. Mari kita sama-sama membangun Sumedang yang lebih baik. Masih ada ribuan kelas yang perlu diperbaiki, masih ada ribuan kilometer jalan yang belum terselesaikan,” ujarnya.
Fajar menegaskan pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga tokoh agama, tokoh budaya, serta organisasi kemasyarakatan.
“Pembangunan Kabupaten Sumedang tidak mungkin bergerak sendiri. Dibutuhkan partisipasi dari Bapak dan Ibu tokoh agama, tokoh budaya, dan organisasi. Mari kita bersama-sama mewujudkan Sumedang Simpati semakin maju,” katanya.
Ia memastikan Pemkab Sumedang akan terus menyediakan ruang komunikasi dan dialog dengan masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan. Menurutnya, keterbukaan terhadap kritik dan aspirasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembangunan serta pelayanan kepada masyarakat.
“Masukan dari Bapak dan Ibu akan kami terima. Kami akan selalu terbuka, akan selalu ada ruang dialog,” tegasnya.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi awal untuk memperkuat kembali hubungan antara pemerintah dengan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Fajar berharap tidak ada lagi sekat yang menghambat komunikasi dan kolaborasi dalam membangun Kabupaten Sumedang.
“Harapan saya pertemuan ini menjadi momentum untuk membuka lembaran baru. Tidak ada lagi jarak antara pemerintah dan masyarakat, tidak ada lagi sekat antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Yang ada adalah persaudaraan, komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi,” pungkasnya. (****)













