Tingginya volume sampah tersebut menunjukkan bahwa kapasitas pengelolaan yang ada belum mampu mengimbangi jumlah produksi harian. Akibatnya, ketergantungan terhadap TPA masih tinggi, sementara di sisi lain kuota pembuangan ke TPA justru dibatasi.
Kondisi ini berdampak pada antrean panjang kendaraan pengangkut sampah di sejumlah titik di Bandung Raya. Situasi tersebut menjadi indikator bahwa sistem pengelolaan sampah belum berjalan optimal.
Selain itu, Pemkot juga dihadapkan pada dilema lingkungan. Upaya pengurangan sampah tidak boleh menimbulkan dampak baru, seperti polusi dari metode pengolahan yang tidak ramah lingkungan.
Di tengah persoalan tersebut, Pemkot Bandung mulai mendorong langkah efisiensi, termasuk penggunaan kendaraan listrik dalam operasional pemerintahan. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi dampak lingkungan secara keseluruhan, meskipun tidak secara langsung menyelesaikan persoalan utama sampah.
Dengan berbagai tantangan tersebut, penyusunan road map pengelolaan sampah menjadi langkah awal yang penting. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi implementasi, kesiapan infrastruktur, serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya. (****)











