Meski demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menghilangkan nilai integritas akademik. Menurutnya, AI harus digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan jalan pintas yang mematikan proses berpikir mahasiswa.
“Technology needs integrity. Teknologi tanpa etika hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah,” ujarnya.
Arip juga berpesan agar mahasiswa mampu menjadi generasi inovatif yang tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi juga menciptakan dampak positif bagi masyarakat melalui karya ilmiah.
“Create impact, not imitation. Jangan hanya meniru karya orang lain, tetapi ciptakan pengaruh dan tinggalkan jejak intelektual yang bermanfaat,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor I USKM, Aceng Jaelani, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Coaching Clinic yang dinilai mampu meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang penulisan karya ilmiah.
“Kami dari pihak rektorat sangat mendukung berbagai kegiatan positif yang membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan akademiknya, khususnya dalam penulisan karya tulis ilmiah,” katanya saat membuka kegiatan.
Ia berharap program tersebut dapat memberikan manfaat nyata dalam pengembangan kualitas akademik mahasiswa sekaligus mendukung kemajuan Universitas Sindang Kasih Majalengka di masa mendatang. (****)












