Dalam sektor pariwisata, teknologi dimanfaatkan untuk menjaga keseimbangan antara konservasi dan ekonomi. Berbagai destinasi wisata menggunakan AI dan big data untuk memantau jumlah pengunjung secara real time, mengatur arus wisatawan, meningkatkan keamanan, serta menjaga kelestarian lingkungan. Teknologi menjadi alat untuk memperkuat tata kelola, bukan menggantikan peran manusia.
Fenomena tersebut juga dapat dijelaskan melalui konsep soft power yang diperkenalkan Joseph S. Nye Jr. Menurut Nye, kekuatan sebuah negara pada abad ke-21 tidak hanya berasal dari militer atau ekonomi, tetapi juga dari kemampuan membangun daya tarik melalui budaya, pendidikan, inovasi, dan pencapaian teknologi. Dengan merawat Tembok Besar, mengembangkan kota-kota digital, serta mempromosikan inovasi teknologi, China sedang membangun citra sebagai bangsa modern yang tetap berakar pada sejarahnya.
Pelajaran penting bagi Indonesia bukanlah meniru seluruh model pembangunan China. Setiap negara memiliki sejarah, budaya, sistem politik, dan tantangan yang berbeda. Namun, terdapat prinsip universal yang dapat dipetik, yakni bahwa kemajuan memerlukan kesinambungan antara visi sejarah, kualitas institusi, investasi pendidikan, penguasaan teknologi, dan pembangunan karakter bangsa.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal peradaban yang tidak kalah besar. Borobudur, Prambanan, sistem Subak di Bali, tradisi maritim Nusantara, hingga ribuan warisan budaya lokal merupakan kekayaan yang dapat menjadi sumber inspirasi pembangunan nasional. Tantangannya adalah mengubah warisan tersebut menjadi modal sosial yang mendorong inovasi, kreativitas, dan keunggulan kompetitif.
Dalam perspektif Benedict Anderson, bangsa adalah imagined community, sebuah komunitas yang dibangun oleh imajinasi bersama mengenai identitas dan masa depan. Tembok Besar berhasil menjadi simbol yang menyatukan imajinasi kolektif masyarakat China tentang kebesaran bangsanya. Indonesia pun memerlukan narasi kebangsaan yang mampu menghubungkan kejayaan masa lalu dengan visi Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan, riset, dan inovasi.
Karena itu, pendidikan Indonesia tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter, budaya disiplin, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta literasi digital. Sejalan dengan gagasan Peter Senge tentang learning organization, bangsa yang mampu bertahan dalam perubahan adalah bangsa yang menjadikan belajar sebagai budaya kolektif.
Tembok Besar China akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat mendasar. Monumen terbesar sebuah bangsa bukanlah bangunan batu yang menjulang di pegunungan, melainkan mentalitas kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ketika sejarah mampu melahirkan visi, visi melahirkan institusi, institusi melahirkan manusia unggul, dan manusia unggul melahirkan peradaban. Itulah pelajaran yang layak direnungkan Indonesia dalam menapaki jalan menuju Indonesia Emas 2045.
Penulis: Dr. H. Toto Warsito, S.Ag., M.Ag., CT






