Sementara itu, Argentina besutan Lionel Scaloni tetap mengandalkan keseimbangan antara penguasaan bola dan efektivitas serangan balik. Rotasi trio gelandang Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, dan Rodrigo De Paul menjadi salah satu kekuatan utama Albiceleste dalam mengontrol tempo pertandingan.
Argentina juga dikenal piawai memancing tekanan lawan sebelum melancarkan umpan langsung ke sektor sayap untuk membangun serangan cepat. Strategi tersebut dinilai menjadi salah satu senjata yang patut diwaspadai Inggris.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel menegaskan timnya menghormati Argentina, namun tidak ingin terbebani oleh sejarah panjang rivalitas kedua negara.
“Kami berada di semifinal dengan rasa lapar untuk menang. Kami menghormati lawan, tetapi tidak ingin pertandingan ini menjadi lebih besar dari yang sebenarnya. Setiap tim bisa dikalahkan, begitu juga Argentina dan kami akan memberikan yang terbaik,” ujar Tuchel.
Di sisi lain, Lionel Scaloni memastikan timnya siap bekerja keras demi mengamankan tiket ke partai final.
“Kami akan menghadapi tim nasional yang hebat dengan pelatih yang sangat saya hormati. Kami akan mencurahkan seluruh kemampuan untuk mencapai final dan terus memperbaiki kekurangan yang masih ada,” kata Scaloni.
Berdasarkan lima pertemuan terakhir, kedua tim memiliki catatan yang cukup berimbang. Inggris terakhir mengalahkan Argentina pada fase grup Piala Dunia 2002 dengan skor 1-0, sementara Argentina menyingkirkan Inggris melalui adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 1998.
Pengamat dan rumah taruhan internasional memprediksi pertandingan akan berlangsung ketat dengan minim gol. Argentina masih sedikit lebih diunggulkan sebagai juara bertahan, namun peluang kemenangan kedua tim dinilai sangat tipis.
Banyak pihak memprediksi laga akan berakhir imbang pada waktu normal sebelum ditentukan pada babak tambahan atau bahkan adu penalti. Ketajaman serangan balik Argentina diperkirakan menjadi ancaman utama bagi Inggris dalam perebutan satu tiket menuju final Piala Dunia 2026. (**)






