Ia meminta masyarakat mempertahankan karakter yang ramah, terbuka dan bersahabat sebagai bagian dari daya tarik wisata Pasawahan.
“Karakter masyarakat Pasawahan harus ramah, hangat, dan bersahabat. Jangan kasar, jangan sombong, sehingga wisatawan kapok untuk datang untuk kedua kalinya,” pesannya.
Ia berharap GEMMPAR tidak berhenti pada deklarasi, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Jangan sekarang dideklarasikan, pas saya pulang sepi lagi,” ujar Dian.
Kios Terminal Dibuka untuk Masyarakat
Sementara itu, Camat Pasawahan Asep Dudi Riyadi, SE., M.Si. mengatakan peringatan Hari Jadi ke-34 Kecamatan Pasawahan dimanfaatkan sebagai momentum untuk menggerakkan sektor pariwisata sekaligus menghidupkan kembali Terminal Wisata Paniis.
Menurut Asep, kegiatan tersebut memiliki dua misi utama. Pertama, menjalankan GEMMPAR yang selaras dengan program Nata Daya, terutama dalam aspek pemberdayaan masyarakat dan pengembangan pariwisata.
Misi kedua adalah mengoptimalkan kembali fungsi Terminal Wisata Paniis yang selama ini belum berjalan maksimal.
“Kita ingin Terminal Paniis ini kembali menjadi pusat aktivitas pariwisata sekaligus ruang usaha bagi masyarakat,” kata Asep.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kios-kios yang berada di kawasan terminal. Masyarakat yang menempati kios juga mendapatkan keringanan berupa bebas biaya sewa selama satu tahun.
“Silakan kios dimanfaatkan untuk berusaha. Selama satu tahun tidak ada biaya sewa. Untuk pembenahan dan perapihan kios menjadi tanggung jawab masyarakat yang menempatinya,” jelasnya.
Asep menambahkan, rencana transit bus wisata di Terminal Paniis masih menunggu kebijakan dan koordinasi lebih lanjut dengan Dinas Perhubungan.
“Kita berkolaborasi dengan Dinas Perhubungan. Yang terpenting sekarang bagaimana Terminal Paniis ini kembali ramai, hidup dan berfungsi sesuai peruntukannya sebagai terminal pariwisata,” pungkasnya.
Melalui GEMMPAR, Kecamatan Pasawahan diharapkan tidak hanya menjadi kawasan tujuan wisata, tetapi juga mampu membangun ekosistem ekonomi masyarakat yang melibatkan UMKM, kuliner, homestay, produk lokal dan berbagai usaha pendukung pariwisata lainnya. (****)













