Wisata religi dan ziarah juga menjadi daya tarik tersendiri dengan keberadaan enam situs sejarah yang sering dikunjungi masyarakat maupun wisatawan dari luar daerah.
Dalam mendukung program desa wisata dan peningkatan ekonomi masyarakat, warga Desa Cisaat turut mengembangkan berbagai home industry kerajinan tangan. Produk yang dihasilkan di antaranya ballpoint bambu, boneka, sisingaan, lampion, tas kulit, anyaman bambu, hingga mebel berbahan bambu.
Sektor kuliner pun menjadi bagian penting dari identitas Desa Wisata Cisaat. Beragam makanan khas tersedia, seperti Papais Cisaat, susu sapi murni, tahu susu, peuyeum gantung, aneka keripik, sale pisang dan nanas, wedang jahe, awug, gegeplak, hingga olahan rebung bambu.
Selain wisata alam dan budaya, tersedia pula wahana rekreasi keluarga, permainan anak, outbound, hingga wisata olahraga yang dapat dinikmati pengunjung dari berbagai kalangan.
Perjalanan Desa Cisaat menjadi desa wisata dimulai dari pembentukan tim perintis yang melibatkan pemerintah desa, Kompepar/Pokdarwis, tokoh masyarakat, Karang Taruna, serta berbagai lembaga desa. Tim tersebut kemudian melakukan sosialisasi ke setiap RW mengenai manfaat desa wisata dan penerapan konsep Sapta Pesona.
Pada tahun 2011, pemerintah desa mulai mengusulkan rekomendasi kepada Dinas Pariwisata agar Desa Cisaat ditetapkan sebagai desa wisata. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pada tahun 2016 Desa Cisaat resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata oleh Bupati Subang.
Dengan kekayaan alam, budaya, kuliner, serta kreativitas masyarakatnya, Desa Wisata Cisaat kini menjadi salah satu destinasi wisata yang terus berkembang dan berpotensi menarik lebih banyak wisatawan ke Kabupaten Subang. (**)












