REDAKSI.pesanjabar.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level Rp17.600 dinilai mulai memberi tekanan terhadap kehidupan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Anggota Komisi XI DPR RI, Erik Hermawan, menilai kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok akibat tingginya ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor.
Menurut Erik, depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya produksi di sejumlah sektor seperti kimia, tekstil, elektronik, hingga farmasi. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga komoditas pangan, termasuk kedelai yang berpengaruh terhadap pelaku usaha tahu dan tempe. Ia menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
Erik juga mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang menyiapkan sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, ia menegaskan penanganan tekanan nilai tukar tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter, melainkan juga membutuhkan sinergi fiskal yang agresif, termasuk penguatan pengawasan distribusi pangan dan stabilisasi pasar.
Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto menilai kondisi ekonomi nasional masih terkendali meskipun rupiah berada di level terendah. Ia menegaskan Indonesia tetap aman dari sisi pangan dan energi di tengah ketidakpastian global yang sedang terjadi. (**)








