Selain itu, Dinsos Kota Bandung juga pernah menjalankan program bimbingan fisik dan mental (Bintalsik) bekerja sama dengan Kodim untuk memberikan pembinaan kepada PMKS hasil penjangkauan selama 14 hari di rumah singgah.
Perhatian terhadap penyandang disabilitas pun terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Saat ini, Dinsos Kota Bandung tengah mengembangkan kajian daycare inklusif bagi penyandang disabilitas sesuai arahan Wali Kota Bandung.
Program tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (RBM), relawan sosial, PKK, Karang Taruna, TKSK, hingga aparat kewilayahan.
Irvan mengungkapkan, tantangan yang masih dihadapi saat ini adalah adanya keluarga yang menyembunyikan anggota keluarganya yang menyandang disabilitas sehingga penanganan sering terlambat dilakukan.
Menurutnya, deteksi dini sangat penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat, mulai dari pemeriksaan medis, layanan psikolog, layanan kesehatan jiwa, hingga pendampingan keluarga dan lingkungan sosial.
Meski fasilitas rumah singgah saat ini masih memiliki keterbatasan untuk penanganan penyandang disabilitas yang membutuhkan treatment khusus, Dinsos Kota Bandung terus memperkuat kolaborasi bersama komunitas, pemerintah provinsi, dan berbagai elemen masyarakat agar layanan rehabilitasi sosial semakin optimal. (****)












