Budaya  

Ribuan Warga Meriahkan Seba Sapton dan Babarit Hari Jadi ke-528 Kuningan

kuningankab.go.id/PESANJABAR
Beragam kesenian tradisional dan atraksi keprajuritan ditampilkan lima Kademangan dalam helaran Seba Sapton sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya leluhur Kuningan.

Adapun Kademangan Raksakancana Jaya yang meliputi Kecamatan Cidahu, Cibingbin, Cibeureum, Cimahi, Karangkancana, Ciwaru, dan Luragung membawa pertunjukan keprajuritan gada serta Tari Angkol.

Sedangkan Kademangan Suradipati Jaya yang mencakup Kecamatan Darma, Cilebak, Subang, Selajambe, Hantara, dan Ciniru menampilkan keprajuritan Kujang Satia Pusaka Wibawa Nagara serta Tari Rudat.

Setelah seluruh persembahan Seba diserahkan, rangkaian dilanjutkan dengan amanat dari Kanjeng Raja. Prosesi kemudian ditutup dengan Nawur Asih, yaitu pembagian hasil Seba, tumpeng, dan gunungan sayuran kepada masyarakat sebagai bentuk berbagi dan kebersamaan.

Pada sore hari, setelah waktu istirahat dan Salat Ashar, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi Babarit. Acara diawali Rajah atau Kidung Pembuka, kemudian diteruskan dengan sejumlah pertunjukan budaya, antara lain tari sakral Babarit, Tayub Menak, Tepak Soder, Tari Kangsreng, dan Tari Masal.

Rangkaian budaya tersebut kemudian ditutup dengan Murak Tumpeng, yakni tradisi makan bersama yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus ungkapan kebersamaan masyarakat. Kegiatan berakhir dengan tari bersama yang melibatkan jajaran pejabat, tamu undangan, dan masyarakat.

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menyampaikan bahwa pelaksanaan Seba Sapton dan Babarit merupakan bagian dari komitmen bersama untuk menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, pelaksanaan tahun ini memiliki suasana berbeda karena kegiatan Sapton yang sebelumnya digelar di Lapang Cijoho dipindahkan ke Jalan Siliwangi. Perubahan lokasi tersebut membuat pertunjukan dapat disaksikan lebih banyak masyarakat.

“Tradisi tahunan Babarit dan Sapton kembali kita laksanakan. Tahun lalu memang tidak diselenggarakan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Tahun ini kita kembali menghadirkannya bersama masyarakat,” ujar Dian.

Ia menilai pemindahan lokasi Sapton ke Jalan Siliwangi justru memberikan pengalaman baru. Tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa tradisi tersebut masih mendapatkan tempat di tengah kehidupan masyarakat Kuningan.

“Kalau Sapton sekarang berbeda. Dulu hanya dinikmati peserta di Lapang Cijoho, sekarang dipindahkan ke Jalan Siliwangi. Ternyata antusiasme penonton dan masyarakat cukup bagus,” katanya.

Dian menegaskan bahwa keberlangsungan tradisi menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah. Menurutnya, merawat tradisi bukan hanya tentang mempertahankan masa lalu, tetapi juga bagian dari menyiapkan masa depan.

“Tradisi leluhur dari waktu ke waktu harus terus kita pertahankan. Menghormati dan merawat tradisi pada dasarnya juga merupakan bagian dari merawat masa depan,” ungkapnya.

Selain aspek budaya, Bupati juga melihat kegiatan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata daerah. Ia mengapresiasi panitia dan masyarakat yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan.

Ia juga menyoroti tradisi berbagi makanan dan hasil Seba kepada masyarakat. Sayuran dari masing-masing Kademangan dibagikan untuk dibawa pulang sebagai bentuk kebersamaan sekaligus simbol keberkahan.

Menurut Dian, suasana kebersamaan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Hari Jadi Kuningan.

“Saya senang melihat masyarakat bisa tersenyum dan menikmati perayaan Hari Jadi Kuningan. Ini adalah hari ulang tahun kita bersama,” ujarnya.

Ia berharap momentum peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan dapat semakin memperkuat silaturahmi dan semangat gotong royong antara pemerintah daerah dengan masyarakat.

“Semoga perayaan ini semakin memperkuat tali silaturahmi, guyub, dan kekompakan sehingga bersama-sama kita dapat membangun Kuningan ke depan,” katanya.

Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan selanjutnya diisi dengan sejumlah agenda. Setelah Melesat Run pada Minggu (06/09/2026), Pemerintah Kabupaten Kuningan juga menjadwalkan Karnaval Budaya bertema “Kuningan dari Masa ke Masa” pada 13 September 2026.

Karnaval tersebut akan menggunakan rute yang lebih panjang, dimulai dari Bunderan Cijoho dan berakhir di depan Taman Kota Kuningan. Berbagai atraksi akan menggambarkan perjalanan sejarah Kuningan mulai dari era Kerajaan Saunggalah, Kesultanan Cirebon, hingga perkembangan Kuningan pada masa kini.

Selain itu, agenda Bupati Saba Lembur juga dijadwalkan berlangsung pada 8 September di Subang dan 10 September di Mandirancan. Kegiatan tersebut akan diisi berbagai pelayanan kepada masyarakat, mulai dari pertunjukan seni budaya, bakti sosial, pengobatan, pelayanan administrasi pemerintahan, bedah rumah, hingga layanan kesehatan.

Antusiasme masyarakat terhadap Seba Sapton dan Babarit juga terlihat dari warga yang sengaja datang untuk menyaksikan langsung rangkaian acara. Salah satunya Oom (60), warga Desa Sagahariang, Kecamatan Darma, yang hadir bersama cucunya.

Ia mengaku senang dapat kembali menyaksikan tradisi tersebut secara langsung. Menurutnya, Seba Sapton dan Babarit merupakan agenda budaya yang selalu dinantikan masyarakat.

“Setiap tahun saya selalu menyaksikan. Tahun ini terasa berbeda, lebih seru dan meriah. Saya sengaja datang bersama cucu untuk melihat langsung,” tuturnya. (****)

Laman: 1 2

Source: kuningankab.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *