Peran Intelektual di Tengah Masyarakat
Melalui kapasitas intelektual yang dimiliki, seorang sarjana diharapkan tidak hanya terfokus pada isu-isu elitis yang jauh dari masyarakat. Peran mereka seharusnya lebih luas dan berdampak nyata.
Hal penting yang perlu ditekankan bukanlah pada label atau tingkatan, melainkan pada kemampuan dan kedalaman ilmu yang dapat digunakan untuk membebaskan, memberdayakan, memajukan, mencerdaskan, serta mencerahkan masyarakat.
Haedar Nashir menegaskan bahwa tanggung jawab utama seorang intelektual adalah menghadirkan perubahan sosial, yaitu membawa masyarakat dari kondisi kegelapan menuju pencerahan.
Peran tersebut hanya dapat dijalankan dengan baik jika seorang intelektual memiliki dorongan batin untuk terus mengasah pemikiran, kecerdasan, serta kemampuan analisis agar mampu merespons dan memberikan solusi atas berbagai persoalan sosial.
“Itu adalah calling, itu adalah panggilan, itu adalah komitmen. Bukan sekadar formalitas dari gelar atau kepangkatan akademik di lingkungan perguruan tinggi,” ungkapnya.
Dengan menempatkan intelektualisme sebagai bentuk panggilan, maka seseorang yang tidak menempuh pendidikan tinggi sekalipun tetap dapat disebut sebagai ulil albab, selama ia memiliki komitmen untuk memberi dampak dan berkontribusi dalam memajukan masyarakat. (****)






