BUMD: Dari Penerima Dividen Menjadi Bagian Rantai Pasok Kawasan Industri
Selain aset, Subang memiliki modal lain yang tidak kalah penting, yakni BUMD. Pertumbuhan kawasan industri membuka peluang agar BUMD tidak hanya dilihat dari besaran dividen yang disetorkan kepada pemerintah daerah, tetapi juga dari kemampuannya mengambil bagian dalam ekosistem ekonomi kawasan.
Subang memiliki sejumlah BUMD yang dapat menjadi modal awal untuk dikembangkan sesuai karakter dan kompetensinya, antara lain Perumda Air Minum Tirta Rangga, PT Subang Sejahtera, PT Subang Energi Abadi (SEA), dan PT BPR Subang Gemi Nastiti. Pemerintah Kabupaten Subang juga telah melakukan evaluasi kinerja BUMD pada Semester I 2026.
Perumda Tirta Rangga, misalnya, memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan air bersih, termasuk peluang pelayanan untuk kawasan industri. Perusahaan ini dilaporkan berada dalam kondisi sehat pada 2025, dengan peningkatan laba dan kontribusi PAD. Sementara itu, PT SEA dapat dikaji potensinya dalam mendukung kebutuhan energi kawasan sesuai bidang usaha, kapasitas perusahaan, dan regulasi yang berlaku. PT Subang Sejahtera juga perlu diarahkan untuk menangkap peluang usaha yang relevan dengan pertumbuhan ekonomi daerah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan BUMD tidak harus dimulai dari nol. Sebagian telah memiliki fondasi usaha yang dapat dikembangkan lebih jauh.
Kawasan industri membutuhkan air bersih, energi atau gas, pengelolaan limbah, hingga tenaga kerja. Kebutuhan tersebut dapat menjadi ruang yang dikaji BUMD sesuai kompetensi dan kelayakan bisnisnya.
Pengelolaan limbah, misalnya, berpotensi menjadi kegiatan ekonomi apabila memenuhi standar lingkungan, perizinan, teknologi, dan keselamatan. Sementara penyiapan tenaga kerja dapat dikembangkan melalui kolaborasi BUMD dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, dan perusahaan kawasan industri.
Dengan demikian, BUMD dapat bergerak dari sekadar penerima penyertaan modal dan penyetor dividen menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi kawasan. Namun, pengembangan tersebut tidak boleh dilakukan hanya karena melihat peluang. Setiap sektor harus melalui kajian pasar, investasi, kapasitas manajemen, risiko, regulasi, proyeksi pendapatan, dan mekanisme pengawasan yang jelas.
Yang dibutuhkan adalah keberanian membaca kebutuhan kawasan sekaligus disiplin menjaga prinsip bisnis yang sehat.
