REDAKSI.pesanjabar.com – Setiap tanggal 10 Januari, bangsa Indonesia memperingati Hari Tritura (Tri Tuntutan Rakyat), sebuah momentum bersejarah yang merekam peran penting mahasiswa dalam dinamika politik nasional. Peringatan ini merujuk pada gelombang aksi mahasiswa tahun 1966 yang menjadi titik balik perjalanan bangsa.
Hari Tritura bukan sekadar penanda sejarah, melainkan simbol keberanian generasi muda dalam menyuarakan aspirasi rakyat di tengah krisis politik dan ekonomi. Gerakan ini menjadi bagian dari proses transisi kekuasaan yang membawa perubahan besar dalam sistem pemerintahan Indonesia.
Apa Itu Hari Tritura?
Hari Tritura lahir dari aksi demonstrasi besar-besaran mahasiswa pada tahun 1966 yang mengajukan tiga tuntutan utama kepada pemerintah. Gerakan ini muncul pascaperistiwa G30S 1965 dan dipelopori oleh mahasiswa serta pemuda sebagai bentuk perlawanan moral terhadap kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.
Mahasiswa bergerak secara terorganisir dalam satu kesatuan aksi, menegaskan perannya sebagai agent of change dalam kehidupan sosial dan politik bangsa.
Latar Belakang Tritura
Munculnya Tritura merupakan akumulasi persoalan nasional yang kompleks. Krisis politik pasca-G30S 1965 menyebabkan kepercayaan publik terhadap pemerintahan Orde Lama menurun drastis. Kondisi tersebut diperparah oleh krisis ekonomi yang berat, dengan tingkat inflasi mencapai sekitar 600 persen, sehingga harga kebutuhan pokok melonjak tajam.
Selain itu, pemerintah dinilai tidak tegas dalam menyikapi keberadaan PKI, yang memicu keresahan di tengah masyarakat dan mahasiswa.
Isi Tri Tuntutan Rakyat
Gerakan Tritura dirumuskan dalam tiga tuntutan utama yang mencerminkan kondisi bangsa saat itu, yaitu:
Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi massanya
Pembersihan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur yang terlibat G30S/PKI
Penurunan harga serta perbaikan kondisi ekonomi rakyat
Tiga tuntutan ini menjadi tekanan politik kuat terhadap pemerintah dan mendorong meluasnya gerakan mahasiswa di berbagai daerah.
Demonstrasi Tritura 1966
Aksi puncak Tritura berlangsung pada 10-13 Januari 1966, ketika ribuan mahasiswa turun ke jalan-jalan Jakarta. Aksi dipimpin oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) bersama organisasi kepemudaan lainnya dengan menyasar pusat-pusat pemerintahan.
Dalam rangkaian peristiwa tersebut, mahasiswa Universitas Indonesia Arif Rahman Hakim gugur dan dikenang sebagai martir perjuangan mahasiswa. Tekanan Tritura kemudian berujung pada terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966, yang menjadi tonggak lahirnya Orde Baru.
Makna Hari Tritura
Hari Tritura memiliki makna mendalam bagi demokrasi Indonesia. Peristiwa ini menegaskan bahwa kekuasaan negara harus berpihak kepada rakyat. Gerakan mahasiswa 1966 lahir bukan untuk merebut kekuasaan, melainkan memperjuangkan stabilitas nasional dan kesejahteraan masyarakat.
Tritura juga mencerminkan persatuan lintas elemen bangsa, ketika mahasiswa, pelajar, dan masyarakat bergerak bersama dengan tujuan yang sama.
Cara Memperingati Hari Tritura
Peringatan Hari Tritura dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan positif untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan nilai kebangsaan, antara lain:
Diskusi dan kajian sejarah di sekolah atau perguruan tinggi
Edukasi sejarah melalui media digital
Refleksi kebangsaan dan doa bersama
Kunjungan ke museum atau situs sejarah






