“Melalui pendekatan sosiologi komunikasi, kami ingin mendorong KPM agar tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi subjek yang aktif dalam proses pemberdayaan. Komunikasi yang dibangun harus dialogis, partisipatif, dan sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat,” ujar Akhmad Basuni.
Ia menjelaskan, pemberdayaan berbasis sosiologi komunikasi penting karena keberhasilan program sosial tidak hanya ditentukan oleh bantuan yang diberikan, tetapi juga oleh kualitas komunikasi, partisipasi, serta hubungan sosial antara masyarakat dengan para pemangku kepentingan.
Menurutnya, masyarakat Desa Pagon memiliki modal sosial yang cukup kuat berupa gotong royong, kebersamaan, solidaritas, dan musyawarah. Modal sosial tersebut perlu dioptimalkan untuk mendukung keberlanjutan program pemberdayaan.
“Potensi gotong royong dan kebersamaan yang sudah ada di masyarakat harus menjadi kekuatan. KPM perlu diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, aspirasi, sekaligus ikut mencari solusi terhadap persoalan yang mereka hadapi,” katanya.
Sementara itu, anggota tim PkM Asep Awaludin menambahkan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan komunikasi KPM dalam forum kelompok PKH.
“Komunikasi bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi bagaimana membangun dialog. KPM perlu memiliki keberanian untuk bertanya, menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, dan berdiskusi secara konstruktif. Dengan komunikasi yang lebih terbuka, forum PKH dapat menjadi ruang belajar bersama,” ungkap Asep.
Ia berharap, penguatan komunikasi partisipatif dapat membuat pertemuan kelompok PKH tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi administratif, tetapi berkembang menjadi ruang edukasi, refleksi, dan penguatan kapasitas keluarga.












