Adapun Kampung Jogonegaran mengembangkan konsep kampung sayur dan kuliner berbasis pemberdayaan masyarakat, sedangkan Sosrowijayan Kulon telah lebih dulu memiliki identitas kuat melalui kawasan Pasar Kembang yang dikenal luas wisatawan. Seluruh potensi tersebut dirangkum dalam konsep Sapta Malioboro sebagai identitas bersama Kampung Wisata Sosromenduran.
Wahyu menambahkan, pemilihan Kampung Wisata Sosromenduran sebagai lokasi branding didasarkan pada posisinya yang strategis di sekitar Malioboro. Kawasan ini berperan sebagai penyangga aktivitas pariwisata di pusat kota sekaligus mendukung kawasan sumbu filosofis Yogyakarta dengan menyediakan beragam fasilitas bagi wisatawan.
Peluncuran logo dan branding baru tersebut secara resmi dilakukan oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif penguatan identitas kampung wisata yang bertumpu pada partisipasi aktif masyarakat.
Menurut Wawan, kampung wisata merupakan gambaran nyata wajah Yogyakarta yang hidup, dinamis, dan tumbuh dari keterlibatan warganya. Keberadaannya tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial, ruang kreativitas, serta wadah pelestarian budaya. Ia berharap, re-branding ini dapat mendorong pengelolaan kampung wisata yang lebih baik, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat, sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata Kota Yogyakarta. (**)






