Dalam kondisi tertentu, ia bahkan harus berutang kepada tetangga atau warung untuk membeli beras dan lauk-pauk. Cara itu terpaksa dilakukan ketika penghasilan yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
“Kalau tidak ada uang, terkadang saya utang beras atau lauk-pauk ke tetangga dan warung. Ya, itu untuk menutupi kebutuhan hidup,” tuturnya.
Sementara itu, dari pekerjaannya sebagai tenaga honorer, Sudrajat menerima honor sekitar Rp1,6 juta per bulan. Penghasilan tersebut juga belum mampu memberikan keleluasaan bagi dirinya untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.
Persoalan lain muncul ketika harga kebutuhan terus meningkat, sedangkan tarif parkir tidak mudah dinaikkan. Ia khawatir pengunjung keberatan apabila tarif parkir mengalami kenaikan. Padahal, pendapatan dari pekerjaan tersebut menjadi salah satu penopang ekonomi keluarganya.
Ketika parkiran ramai, penghasilannya memang berpeluang lebih besar. Namun, ia juga harus berbagi rezeki dengan orang lain yang membantunya menjaga parkiran. Selain itu, ada tanggung jawab mengganti apabila kendaraan atau helm milik pengunjung hilang.
Di tengah perjuangannya mencari nafkah, Sudrajat juga mengungkapkan belum pernah menerima bantuan sosial pemerintah. Ia berharap pendataan penerima bantuan dilakukan lebih cermat agar masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas tidak terlewatkan.













