13.000 Kasus HIV di Bandung, Pemerintah Perkuat Layanan lewat 80 Puskesmas

bandung.go.id/PESANJABAR
“AIDS bisa diakhiri. Stigma harus dihentikan.” – Bandung bergerak bersama menuju Three Zero 2030.

Dadan Mulyana Kosasih, Plt. Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung.

Dalam paparannya, dr. Agung menyampaikan bahwa stigma terhadap HIV/AIDS masih sering menjadi hambatan, meski teknologi pengobatan dan pencegahan terus berkembang.

“HIV bukan sekadar persoalan virus, tetapi soal masa depan manusia. Stigma bisa lebih merusak jika dibiarkan mengalahkan edukasi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan tiga strategi utama menuju target Three Zero 2030:

  • Pencegahan berbasis edukasi
    Penyuluhan harus hadir di berbagai ruang aktivitas masyarakat dengan pendekatan yang humanis.
  • Deteksi dini dengan empati
    Tes HIV perlu dipandang sebagai langkah keberanian, bukan sesuatu yang memalukan.
  • Pengobatan yang berkelanjutan
    Pasien harus mendapatkan akses ARV secara konsisten tanpa merasa ditinggalkan.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi model pentahelix (pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas).

“Ketika semua bersinergi, Bandung bukan hanya melawan virus, tetapi menjaga manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Dadan Mulyana Kosasih memaparkan data terkini HIV di Kota Bandung. Total kasus kumulatif mencapai 13.000, dengan 10.000 pasien masih hidup dan 6.700 di antaranya menjalani terapi ARV. Setiap tahun ditemukan 500–700 kasus baru, dengan tingkat temuan 1,04% dari 91.000 tes.

Cakupan tes bagi ibu hamil masih menjadi tantangan karena baru mencapai 60%.

“Masih ada 40% ibu hamil yang belum menjalani tes, sehingga berpotensi menularkan kepada bayi,” jelasnya.

Untuk memudahkan masyarakat, layanan tes dan pengobatan HIV tersedia di 80 Puskesmas, 31 rumah sakit, 8 klinik HIV, serta fasilitas layanan di Lapas dan Rutan.

“Silakan datang ke Puskesmas terdekat. Gratis, aman, dan rahasia,” tambah Dadan.

Program Tebar Cinta Akhiri AIDS hadir memberikan dukungan moral, spiritual, hingga bantuan terapi bagi penyintas, termasuk penguatan ekonomi keluarga terdampak. Program ini diharapkan menjadi jembatan harapan agar tidak ada penyintas yang menjalani proses pemulihan sendirian.

“AIDS bisa diakhiri. Tetapi stigma harus dihapus terlebih dahulu.” (**)

Laman: 1 2

Source: bandung.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *