Dena juga mengaitkan peran generasi muda dengan cita-cita besar Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, pembangunan bangsa membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar.
Ia mencontohkan sejumlah program pemerintah yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kemandirian bangsa, di antaranya Sekolah Rakyat, program Makanan Bergizi Gratis, serta kebijakan hilirisasi sumber daya alam.

Menurut Dena, sektor pertanian juga memiliki peranan penting dalam mewujudkan kemandirian nasional. Ia berharap Indonesia mampu mencapai swasembada pangan dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten.
Dengan sumber daya alam yang melimpah, seperti nikel, timah, emas, perkebunan kelapa sawit, karet, serta berbagai komoditas lainnya, Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk menjadi negara yang mandiri apabila dikelola secara optimal oleh generasi muda yang memiliki kualitas sumber daya manusia.
Dena juga menyoroti keberadaan Sekolah Rakyat yang menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memberikan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Menurutnya, Sekolah Rakyat dirancang dengan fasilitas pendidikan yang memadai dan standar pembelajaran yang tinggi. Program tersebut diperuntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan rendah, khususnya kelompok desil satu dan dua.
Tidak hanya berbicara mengenai kebijakan dan masa depan bangsa, Dena turut membagikan pengalaman pribadinya kepada mahasiswa baru. Ia menceritakan bagaimana perjuangan yang dijalani sejak awal hingga akhirnya mampu menduduki posisi sebagai Wakil Bupati Majalengka.
Dena menegaskan bahwa pencapaiannya bukan berasal dari latar belakang keluarga kaya ataupun keturunan ningrat. Menurutnya, keberhasilan tersebut diperoleh melalui kerja keras, ikhtiar, kedisiplinan, serta doa dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Saya bisa menjadi Wakil Bupati Majalengka dengan usaha dan kerja keras serta menjalani hidup yang berbeda dengan anak-anak dan generasi muda kebanyakan. Di saat orang lain tidur nyenyak tengah malam, saya bangun untuk salat malam. Saat generasi muda bermain dan hura-hura, saya belajar dan bekerja yang setiap harinya bisa sampai 16 jam,” ungkapnya.
Ia berharap perjalanan hidup yang dilaluinya dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa baru USK Majalengka untuk tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.
“Alhamdulillah hasilnya seperti sekarang. Perjalanan hidup saya ini semoga menjadi inspirasi bagi adik-adik mahasiswa baru USK Majalengka sehingga dapat menggapai cita-cita setinggi langit,” tegas Dena.
Menariknya, di tengah kesibukannya sebagai Wakil Bupati Majalengka, Dena juga tercatat sebagai salah satu mahasiswa tingkat akhir pada Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di Universitas Sindang Kasih Majalengka.
Kehadirannya sebagai pemateri sekaligus mahasiswa USK menjadi pesan tersendiri bahwa proses belajar dapat dilakukan sepanjang hayat, termasuk oleh seseorang yang telah mengemban amanah sebagai pejabat publik. (****)












