Peran kader TPK dinilai penting karena mereka berhadapan langsung dengan keluarga di lingkungan masyarakat. Melalui pendampingan tersebut, keluarga diharapkan memperoleh edukasi dan dukungan terkait pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pola pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Wihaji juga memberikan penghormatan khusus kepada para kader Tim Pendamping Keluarga yang hadir. Ia mengapresiasi keterlibatan para kader dalam menjalankan pendampingan keluarga dan berharap seluruh peserta senantiasa diberikan kesehatan serta kelancaran dalam menjalankan tugasnya.
Dalam kesempatan itu, Wihaji turut menyampaikan apresiasi kepada Sugiono yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut Sugiono sebagai sosok guru sekaligus komandannya di kementerian.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi Raemi menyampaikan bahwa terdapat 24.645 Keluarga Risiko Stunting (KRS) yang menjadi sasaran perhatian di Kabupaten Subang. Jumlah tersebut terdiri atas 3.527 ibu hamil, 8.861 ibu yang memiliki baduta atau anak di bawah usia dua tahun, serta 12.257 ibu yang memiliki balita atau anak di bawah usia lima tahun.
Menurut Bupati, penanganan risiko stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sektor keluarga berencana, pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, sanitasi, hingga perubahan perilaku masyarakat. Karena itu, pendampingan keluarga perlu diperkuat melalui kerja sama pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, dan berbagai unsur terkait.
Ia juga menekankan pentingnya menyelaraskan program pemerintah daerah dengan kebijakan nasional agar pelayanan dan pendampingan kepada keluarga sasaran dapat berjalan lebih optimal.













