KKNM Universitas Subang Kelompok 10 Desa Cupunagara Perkuat UMKM Gula Aren dan Kopi

SAE/PESANJABAR
Monitoring dan Evaluasi (Monev) KKNM Universitas Subang Tahun 2026 Kelompok 10 digelar di Posko KKNM Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Senin (17/8/2026).

Dalam bidang teknologi tepat guna, Kelompok 10 juga merancang pengadaan dan demonstrasi mesin pengolah kopi sederhana berupa pulper dan grinder. Program ini ditujukan untuk membantu mekanisasi produksi sekaligus meningkatkan efisiensi pengolahan kopi masyarakat.

Tak hanya bidang ekonomi, mahasiswa juga menyusun policy brief pemetaan jalur logistik dan advokasi jalan perkebunan sebagai upaya mendorong perbaikan akses jalan yang mendukung aktivitas pengangkutan hasil panen masyarakat.

DPL: Program Harus Berorientasi pada Keberlanjutan

DPL Kelompok 10, Maulana Rahman, S.T., M.T., dalam kegiatan Monev menekankan pentingnya mahasiswa tidak hanya menyelesaikan program kerja secara administratif, tetapi juga memastikan kegiatan yang telah dilakukan benar-benar dapat diteruskan oleh masyarakat.

Menurutnya, potensi gula aren dan kopi di Desa Cupunagara memiliki peluang untuk terus dikembangkan, terutama melalui penguatan branding, pengolahan produk, pemasaran digital, serta kolaborasi dengan pemerintah desa dan kelompok masyarakat.

“Program KKNM harus meninggalkan manfaat yang dapat dilanjutkan masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu memastikan setiap kegiatan memiliki tindak lanjut, baik dalam pengembangan UMKM, pengolahan kopi, pemasaran maupun penguatan kelembagaan masyarakat,” ujar Maulana.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memperkuat koordinasi internal kelompok dan komunikasi dengan pemerintah desa serta masyarakat sebagai bagian penting dari keberhasilan program.

Rahmayudi: Capaian Harus Terukur

Tim Monev Universitas Subang, Rahmayudi, S.Kom., M.Kom., mengapresiasi arah program Kelompok 10 yang berupaya menyentuh kebutuhan riil masyarakat, khususnya pengembangan UMKM gula aren dan kopi.

Menurut Rahmayudi, kegiatan Monev menjadi momentum bagi mahasiswa untuk melihat kembali kesesuaian antara rencana, pelaksanaan dan capaian program.

“Yang penting bukan hanya programnya terlaksana, tetapi harus terlihat capaian dan manfaatnya. Setiap kegiatan perlu memiliki indikator yang jelas sehingga hasil KKNM dapat dipertanggungjawabkan sekaligus menjadi dasar untuk pengembangan program berikutnya,” ungkapnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk memperkuat dokumentasi kegiatan, mengukur perubahan yang terjadi pada sasaran program, serta menyusun rekomendasi yang dapat digunakan masyarakat maupun pemerintah desa setelah KKNM berakhir.

Laman: 1 2 3

Exit mobile version