Adapun KH MA Sahal Mahfudz dikenal sebagai pembaru fiqih sosial yang menguatkan orientasi pesantren pada kemaslahatan masyarakat. Sedangkan KH Imam Zarkasyi dan Nyai Sholihah Wahid dikenang sebagai figur sederhana yang menanamkan nilai-nilai pendidikan, kemandirian, dan peran perempuan dalam pesantren.
Alissa menambahkan, penghargaan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat publikasi nilai-nilai pesantren yang kini semakin relevan dengan tantangan zaman.
“Pesantren kini menjadi pusat pendidikan yang ramah anak, ramah lingkungan, dan inovatif dalam pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI Basnang Said menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi nyata pesantren dan tokoh-tokohnya.
“Penghargaan ini kami rancang secara objektif dan transparan sebagai wujud apresiasi negara terhadap dedikasi dunia pesantren,” ujarnya. (**)






