Adapun gelar lainnya diberikan kepada Gisela Bellezia Alma Tessalonica (Puteri Indonesia Pendidikan), Nilam Onasis Sahputri (Puteri Indonesia Kebudayaan), dan Glorya Stevany Yame Nayoan (Puteri Indonesia Teknologi dan Inovasi).
Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-29 Puteri Indonesia, dengan tema “Dari Indonesia untuk Dunia,” yang menekankan pentingnya peran perempuan dalam inovasi, keberlanjutan lingkungan, serta kontribusi terhadap perdamaian global.
Para finalis sebelumnya telah menjalani masa prakarantina dan karantina selama dua minggu di Jakarta, dengan berbagai pelatihan dan pembekalan dari sejumlah institusi. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari tokoh pemerintahan, profesional, hingga figur publik.
Agnes sendiri telah menarik perhatian sejak awal kompetisi. Perempuan berusia 25 tahun ini lahir di Amerika Serikat dan merupakan lulusan Ilmu Komunikasi. Selain aktif sebagai kreator konten, ia juga mengangkat isu sosial melalui platform digital.
Ia mengusung advokasi “Rahajeng Closet: From Excess to Empowerment,” sebuah gerakan yang mendorong pemanfaatan kembali pakaian layak pakai untuk tujuan sosial, seperti pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Agnes percaya bahwa cerita memiliki kekuatan untuk menggerakkan empati dan mendorong aksi nyata di masyarakat. (**)







