Puncak kisah terjadi pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928 — saat lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya dimainkan di hadapan para pemuda. Meski sempat menuai perdebatan dan mendapat larangan dari pemerintah kolonial Belanda, WR Supratman tetap teguh memperdengarkan karyanya dengan biola sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan.
Momen itu menjadi titik balik sejarah bangsa, ketika semangat persatuan dan nasionalisme berpadu dalam satu nada — lagu yang kelak menjadi simbol kebangsaan Indonesia.
WR Supratman memang tidak sempat menyaksikan kemerdekaan yang ia cita-citakan, karena wafat pada tahun 1938, tujuh tahun sebelum proklamasi. Namun, warisan semangatnya tetap abadi melalui lagu Indonesia Raya dan kisah perjuangannya yang diabadikan dalam film ini.
“Wage” bukan sekadar tontonan biografi, tetapi juga pengingat akan arti penting perjuangan, persatuan, dan semangat Sumpah Pemuda bagi generasi penerus bangsa. (**)



