CIREBON.pesanjabar.com – Penguatan kompetensi guru perlu diwujudkan melalui praktik pembelajaran yang inovatif dan kerja sama berkelanjutan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sindang Kasih Majalengka (USKM), Dr. Arip Amin, M.Pd., saat memberikan materi kepada 42 guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 1 Kejaksan, Kota Cirebon, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang digelar di SDN Kartini 2 Kota Cirebon itu mengangkat tema Kepemimpinan Adaptif dan Kolaboratif dalam Implementasi Pembelajaran Mendalam di SD. Forum tersebut menjadi kesempatan bagi para pendidik untuk memperluas wawasan sekaligus membahas strategi menghadapi dinamika pendidikan di tingkat sekolah dasar.
Dalam pemaparannya, Arip menjelaskan bahwa guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Pendidik juga perlu memahami kebutuhan dan karakteristik peserta didik agar metode pembelajaran yang diterapkan sesuai dengan kondisi serta tantangan yang dihadapi di kelas.
Menurutnya, perubahan dalam dunia pendidikan menuntut guru untuk terus belajar dan mengevaluasi pendekatan mengajar. Kemampuan mengenali hambatan belajar, menyesuaikan strategi, serta mencari solusi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Perubahan dalam dunia pendidikan menuntut guru untuk terus mengembangkan kompetensi dan meninjau kembali pendekatan pembelajaran yang digunakan. Penguasaan materi pelajaran tetap penting, tetapi perlu disertai kemampuan memahami karakteristik peserta didik, mengenali persoalan belajar, serta menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi di kelas,” ujar Arip.
Ia menerangkan, kepemimpinan adaptif berkaitan dengan kemampuan membaca perubahan dan merumuskan penyelesaian atas berbagai persoalan. Adapun kepemimpinan kolaboratif menempatkan komunikasi, pertukaran pengalaman, dan keterlibatan bersama sebagai landasan untuk menghasilkan perbaikan.
Kedua pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam yang menekankan pengalaman belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Dengan pendekatan ini, proses pendidikan diharapkan tidak sekadar menuntaskan materi, tetapi juga mendorong siswa memahami konsep, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, serta melakukan refleksi atas pengalaman belajar mereka.
