Melalui konsep tersebut, Pemerintah Kabupaten Subang ingin memastikan bahwa penyelenggaraan festival memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama pelaku usaha dan pekerja kreatif lokal.
Kang Rey juga menekankan pentingnya pendekatan promosi pariwisata yang lebih inovatif. Menurutnya, festival dapat menjadi media untuk memperkenalkan potensi wisata sekaligus menghidupkan kegiatan ekonomi kreatif di daerah.
“Pariwisata tanpa festival, omong kosong. Makanya saya ingin wisata dan ekraf jadi satu kesatuan utuh di Kabupaten Subang,” tegasnya.
Ia menambahkan, SubangFest akan tetap mengutamakan penampilan seniman lokal. Sementara itu, kehadiran artis atau bintang tamu menjadi pelengkap yang dapat menambah daya tarik acara bagi masyarakat.
Kang Rey menilai tingginya antusiasme pengunjung dalam penyelenggaraan SubangFest selama ini menjadi salah satu indikator positif bagi perkembangan industri kreatif di Kabupaten Subang.
Mendapat Respons Wakil Menteri Kebudayaan
Konsep pengembangan ekonomi kreatif melalui festival tersebut mendapat perhatian Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, H. Giring Ganesha Djumaryo, S.I.Kom., yang mengikuti paparan Kang Rey dalam forum tersebut.
Giring menyampaikan ketertarikannya terhadap konsep SubangFest, bahkan melontarkan candaan sekaligus tantangan untuk dapat tampil bernyanyi dalam salah satu penyelenggaraan festival tersebut.
“Wakil Menteri Kebudayaan boleh nyanyi di SubangFest?” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Giring mengajak pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga serta mengembangkan kebudayaan Indonesia. Menurutnya, kekayaan budaya merupakan modal penting bagi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
“Pemerintah tanpa pelaku ekraf dan masyarakat bagaimana kita akan melestarikan kebudayaan Indonesia? Ekraf butuh bahan baku dan bahan baku terbesar ekraf Indonesia adalah kebudayaan kita,” katanya.
Indonesia Creative Connect 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Kegiatan tersebut dibuka oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, serta diikuti sejumlah kepala daerah dan perwakilan kabupaten/kota dari berbagai wilayah Indonesia.
Dalam forum tersebut, Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Mohammed Ali Berawi, turut menyoroti pentingnya penggunaan data dalam pembangunan sektor ekonomi kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif juga memaparkan delapan program unggulan Asta Ekraf, yang mencakup penguatan data, sinergi heksaheliks, pengembangan infrastruktur, perlindungan kekayaan intelektual, penguatan regulasi dan kelembagaan, pengembangan talenta, fasilitasi pendanaan, serta perluasan pasar domestik dan global.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran ICCN, sejumlah kepala daerah, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Subang, serta tamu undangan lainnya. (**)
