SUBANG.pesanjabar.com – Kelompok 5 Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) Kampus Berdampak Universitas Subang menghadirkan inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa mesin perontok padi untuk membantu meningkatkan efisiensi proses pascapanen petani di Desa Cikawung, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang. Inovasi tersebut dipresentasikan sekaligus diserahkan kepada masyarakat dalam kegiatan Lokakarya Akhir KKNM di Desa Cikawung.
Mesin perontok padi tersebut dirancang sebagai solusi atas proses perontokan gabah yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual dengan metode gebot. Cara tersebut dinilai membutuhkan tenaga fisik besar, memerlukan waktu relatif panjang, meningkatkan biaya tenaga kerja, serta berpotensi menyebabkan kehilangan hasil panen.
Desa Cikawung memiliki potensi pertanian yang cukup besar dengan luas area persawahan sekitar 129 hektare. Pola pertanian masyarakat setempat meliputi dua kali penanaman padi dan satu kali tanaman palawija dalam setahun.
Melihat kondisi tersebut, Kelompok 5 KKNM UNSUB merancang dan merakit satu unit mesin perontok padi mekanis. Mesin dibuat dengan konsep sederhana dan menggunakan material yang relatif mudah diperoleh sehingga diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam melakukan perawatan secara mandiri.
Ketua Kelompok KKNM 5, Reza Maeda Hermawan, mengatakan pengembangan mesin tersebut berangkat dari hasil pengamatan terhadap kebutuhan petani di Desa Cikawung. Inovasi itu dirancang agar teknologi yang dihasilkan mahasiswa dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat (30/8/2026).
“Mesin ini kami rancang berdasarkan kebutuhan petani di Desa Cikawung, khususnya untuk membantu proses perontokan padi setelah panen. Harapannya, teknologi ini dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat dan kelompok tani,” ujar Reza.
Dalam proses pembuatannya, mahasiswa melalui sejumlah tahapan, mulai dari observasi kebutuhan, penyusunan desain, pengadaan material, pabrikasi dan perakitan, hingga pengujian di lapangan.
Tahap pengujian dilakukan untuk memastikan putaran mesin, kestabilan rangka, serta fungsi perontokan dapat berjalan sesuai dengan rancangan. Setelah uji coba, mahasiswa memberikan edukasi kepada petani mengenai pengoperasian dan perawatan mesin.
Secara teknis, mesin menggunakan rangka berbahan besi hollow dan plat sebagai konstruksi utama. Bagian perontok menggunakan threshing drum berbahan plat besi yang berfungsi memisahkan gabah dari jerami.
Sistem penggerak dilengkapi poros sepanjang sekitar 75 sentimeter yang ditopang pillow block bearing. Transmisi daya menggunakan pulley berukuran 3 inci dan 15 inci serta V-belt, sedangkan mesin penggerak menggunakan mesin berbahan bakar bensin.













