REDAKSI.pesanjabar.com – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada sebuah momentum penting dalam sejarah perjuangan nasional: lahirnya kesadaran kolektif untuk bangkit sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat, dan bersatu. Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar peringatan historis atas berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang sejauh mana semangat persatuan, pendidikan, dan perjuangan masih hidup dalam kehidupan bangsa saat ini.
Tema Hari Kebangkitan Nasional 2026, “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa sangat bergantung pada bagaimana negara menjaga dan mempersiapkan generasi mudanya hari ini. Tunas bangsa bukan hanya simbol anak-anak dan pemuda, tetapi juga harapan besar Indonesia dalam menghadapi persaingan global, perkembangan teknologi, dan tantangan kebangsaan di masa depan.
Pada tahun 2026, makna kebangkitan nasional menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan era perjuangan dahulu. Jika para pendiri bangsa melawan penjajahan fisik, maka generasi hari ini menghadapi penjajahan dalam bentuk yang lebih halus: ketimpangan sosial, disinformasi digital, lunturnya nilai kebangsaan, hingga ketergantungan ekonomi dan teknologi dari luar negeri. Di tengah arus globalisasi yang bergerak sangat cepat, bangsa Indonesia dituntut untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi mampu menjadi pelaku utama perubahan.






