Direktur Perumda TRS, Lukman Nurhakim, M.I.Kom., menjelaskan bahwa masyarakat Desa Sarireja hingga saat ini belum mendapatkan pelayanan langsung dari Perumda TRS. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga masih mengandalkan sumber mata air yang dikelola secara swadaya.
Menindaklanjuti arahan Bupati Subang, pihaknya akan mengkaji kemungkinan pembangunan jaringan baru yang menghubungkan mata air Cikanyere dengan wilayah permukiman. Jarak sumber air menuju kawasan yang direncanakan untuk dilayani diperkirakan mencapai sekitar lima kilometer.
“Kami akan upayakan agar masyarakat bisa dilayani melalui jaringan baru dari mata air Cikanyere, dengan jarak sekitar lima kilometer,” kata Lukman.
Ia menambahkan, Perumda TRS akan menelusuri jalur perpipaan yang memungkinkan sekaligus menghitung kebutuhan biaya pembangunan. Kajian tersebut diperlukan untuk menentukan skema teknis yang paling memungkinkan agar distribusi air dapat menjangkau masyarakat.
“Kami akan menelusuri jaringan pipa dan biaya yang dibutuhkan. Mudah-mudahan bisa dilayani secara gravitasi,” ungkapnya.
Pemanfaatan sistem gravitasi menjadi salah satu opsi yang akan dikaji dalam perencanaan tersebut. Namun, realisasi pembangunan jaringan tetap memerlukan perhitungan teknis dan pembiayaan agar pelayanan dapat berjalan secara optimal.
Sambil menyiapkan solusi jangka panjang, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan darurat untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak kekeringan. Dalam peninjauan tersebut, sebanyak enam tangki air bersih didistribusikan untuk masyarakat Desa Sarireja dan Desa Palasari.
Warga di kedua desa dilaporkan telah mengalami kesulitan memperoleh air bersih selama kurang lebih dua minggu.
Peninjauan tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Subang, Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Subang, sejumlah kepala perangkat daerah terkait, serta camat setempat.
Melalui rencana pengembangan jaringan perpipaan dari mata air Cikanyere, Pemkab Subang berharap akses air bersih bagi masyarakat di wilayah terdampak dapat ditingkatkan, sekaligus mengurangi risiko krisis air berulang ketika musim kemarau tiba. (**)
