“Kegelapan melambangkan diri manusia yang penuh dengan dosa, sementara cahaya melambangkan Kristus yang hadir untuk menerangi hidup dan menghalau kegelapan,” ujarnya.
Selain rangkaian liturgi Natal, misa juga disisipi doa khusus bagi para korban bencana alam, termasuk yang terjadi di wilayah Sumatera. Romo Vincentius menjelaskan bahwa meskipun tata liturgi gereja mengacu pada buku panduan baku, doa untuk situasi khusus seperti bencana dapat dimasukkan dalam doa umat.
“Doa bagi korban bencana bisa disisipkan dalam doa-doa umat sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas,” tuturnya.
Perayaan Natal di Paroki Santo Thomas tahun ini pun tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga wujud empati dan kebersamaan umat dalam mendoakan sesama yang tengah menghadapi musibah. (****)






