Membangun Arsitektur Batin Generasi Masa Depan

“Resiliens, agilitas, dan adaptivitas bukan soft skill pelengkap, melainkan fondasi utama untuk bertahan dan bertumbuh di era disrupsi.” (Dr. Nanan Abdul Manan, M.Pd.)

Kita juga kerap memandang resiliens, agilitas, dan adaptivitas sebagai “soft skill”. Soft skill juga sering dikategorikan sebagai keterampilan tambahan atau pelengkap. Karena kebanyakan orang tidak menyadari pengaruh kuat dari soft skill itu sendiri dalam menentukan masa depan. Karena ia bersifat laten dan sering enggan dikenali parameternya. Padahal, dalam dunia yang penuh ketidakpastian, ketiganya justru menjadi navigasi utama manusia. Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar Bisnis Universitas Inonesia sekaligus Founder Rumah Perubahan, sering mengingatkan bahwa perubahan hari ini bukan lagi perubahan biasa, tetapi disruption, yang menuntut kelincahan berpikir dan keberanian keluar dari zona nyaman. Resiliens, agility, dan adaptivitas bukan tambahan kecil, melainkan motor utama kelangsungan karier dan kehidupan.

Untuk membangun kemampuan tersebut, kita perlu menata apa yang bisa disebut sebagai arsitektur batin. Arsitektur bathin adalah kendali fundamental personal yang mampu menggerakkan dan memitigasi segara perubahan masa depan agar tetap siap menjadi pemain dan penentu perubahan. setidaknya ada lima pilar penting:

Pertama, State of mind. Ia merupakan cara seseorang memandang perubahan. Carol Dweck (psikolog) melalui konsep Growth Mindset menunjukkan bahwa keyakinan terhadap potensi untuk terus tumbuh membuat seseorang lebih siap menghadapi tantangan. Kedua, Feeling awareness. Hal ini merupakan kesadaran membaca emosi sebagai informasi penting, bukan gangguan. Daniel Goleman (ahli Multiple Intelligence) mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi adalah inti dari pengambilan keputusan yang tepat. Ketiga, Concept of action. Konsep ini adalah kemampuan merumuskan langkah secara sadar, bukan impulsif. Di sinilah ruang batin memainkan peran penting dalam mempertimbangkan pilihan. Keempat, Systematic execution. Pilr ini merupakan sisi keberanian mengeksekusi keputusan dengan konsisten, meski kondisi tidak ideal. Dan kelima, Reflective orientation, yaitu kebiasaan menelaah pengalaman agar setiap keberhasilan maupun kegagalan menjadi ruang belajar.

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *