Membangun Arsitektur Batin Generasi Masa Depan

“Resiliens, agilitas, dan adaptivitas bukan soft skill pelengkap, melainkan fondasi utama untuk bertahan dan bertumbuh di era disrupsi.” (Dr. Nanan Abdul Manan, M.Pd.)

REDAKSI.pesanjabar.com – Ketika kita berbicara tentang pendidikan, kita sering kali mengasumsikan bahwa sekolah adalah tempat terbaik untuk mempersiapkan masa depan anak-anak. Sekolah juga diidentikkan dengan sebuah bangunan formal yang di sana tersusun rapi tempat duduk dan berjejer meja. Pola pengajaran dan pembelajaran yang terus menerus diulang dari tahun ke tahun bahkan sering dijadikan sebagai sebuah dogma yang tidak menerima perubahan dari luar atau isu kekinian. Namun persoalan mengemuka kemudia adalah ternyata perubahan di luar sana sangat cepat melampaui apa yang disampaikan guru kemaren atau hari ini. Ada pengaruh kuat yang menghegemoni diominan kepada peserta didik di luar guru dan lingkungan sekolah itu sendiri. Sepuluh, dua puluh tahun dari sekarang, dunia akan berubah lebih cepat daripada kemampuan kita memprediksi. Pekerjaan datang dan pergi dalam ritme yang sulit diikuti, teknologi berganti generasi dalam hitungan bulan bahkan jam dan menit saja, dan kompetisi hidup melampaui pola-pola lama yang pernah kita kenal. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan utamanya bukan lagi apa yang harus kita ajarkan, tetapi manusia seperti apa yang perlu kita bentuk.

Selama ini pendidikan cenderung menekankan pengetahuan dan keterampilan teknis. Keduanya memang menjadi alat ukur kesuksesan peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran. Ketercapaian lulusan harus selaras dengan konektivitas keterampilan yang kelak digunakan atau diserap di dunia nyata, kompetensi konseptual merupakan sisi kognitif sebagai kekayaan rasional dalam penentuan gerak Langkah profesi peserta didik kelak. Namun, dalam konteks kekinian, jika peserta didik hanya memiliki kedi hal saja untuk kehidupan masa depan dengan segala perubahan cepat, maka keduanya memiliki masa kedaluwarsa yang semakin pendek. Yang bertahan justru fondasi psikologis manusia-cara ia berpikir, membaca emosinya, mengambil keputusan, dan memulihkan diri saat keadaan berubah. Inilah pilar yang sering luput dalam diskusi pendidikan masa depan.

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *