Agama  

Insentif Rp39 Miliar untuk Guru Ngaji, Bukti Komitmen Bandung Utama

Sebanyak 9.232 guru ngaji menerima insentif dengan total anggaran hampir Rp39 miliar sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan keagamaan di akar rumput.

Sejak Desember 2024, pemerintah kota juga menginisiasi tradisi doa bersama lintas agama yang digelar pada 10 hari terakhir setiap akhir tahun. Kegiatan ini melibatkan perwakilan berbagai agama dan mendapat dukungan dari tokoh agama serta Forum Kerukunan Umat Beragama yang selama ini berperan menjaga harmoni antarumat beragama.

Komitmen terhadap toleransi semakin ditegaskan melalui peresmian Kampung Toleransi. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meresmikan Kampung Toleransi ke-6 di RW 01, 02, dan 03 Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, pada 29 April 2025. Program serupa sebelumnya telah hadir di sejumlah wilayah seperti Jamika, Paledang, Dian Permai, Balong Gede, dan Kebon Jeruk sebagai bagian dari strategi membangun kehidupan masyarakat yang rukun dan inklusif.

Salah satu program yang paling dirasakan manfaatnya adalah pemberian insentif bagi guru ngaji. Pada 2025, sekitar 9.232 guru ngaji menerima insentif dengan total anggaran mendekati Rp39 miliar. Kebijakan ini menjadi bentuk nyata perhatian pemerintah terhadap penguatan pendidikan keagamaan di tingkat akar rumput.

Apresiasi pun datang dari para penerima manfaat. Yusup Sumirat dan Jajat Sudrajat menilai insentif tersebut mampu meningkatkan motivasi mengajar serta mendukung keberlangsungan pengabdian para guru, terutama bagi mereka yang menerima honor terbatas dari yayasan.

Nasrulloh menegaskan, keberlanjutan program agamis tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas spiritual, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di kota yang majemuk ini. Ia berharap dukungan kebijakan dan penganggaran terhadap program keagamaan terus berlanjut agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.

Melalui semangat Bandung Utama, pemerintah kota mengajak seluruh warga untuk terus memperkuat spiritualitas sekaligus menjaga harmoni sosial, sehingga kehidupan yang agamis, toleran, dan damai dapat terwujud secara berkelanjutan. (****)

Laman: 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *