Menurut Suryaman, masyarakat tidak hanya melihat partai ketika momentum pemilu tiba. Kehadiran partai dalam persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, lapangan pekerjaan, pelayanan publik dan berbagai persoalan masyarakat akan menentukan tingkat kepercayaan publik.
“Partai politik harus hadir bukan hanya ketika membutuhkan suara. Pernyataan Elita untuk membawa Golkar berada di tengah-tengah masyarakat harus diterjemahkan menjadi kerja politik yang nyata dan berkelanjutan,” tegasnya.
Suryaman juga menilai kepemimpinan periode 2026–2031 harus diarahkan pada penguatan kaderisasi. Golkar membutuhkan regenerasi yang terencana agar kepemimpinan partai tidak hanya bertumpu pada figur tertentu.
“Regenerasi menjadi sangat penting. Elita harus mampu membangun sistem yang melahirkan kader-kader baru, terutama generasi muda, yang memiliki kapasitas politik sekaligus memahami persoalan masyarakat Subang,” katanya.
Selain itu, hubungan antara Golkar sebagai partai politik dengan pemerintahan daerah juga perlu dikelola secara proporsional. Sebagai partai yang memiliki posisi politik cukup kuat di Subang, Golkar memiliki tanggung jawab untuk tetap menjalankan fungsi kontrol dan kritik terhadap pemerintah, sekalipun memiliki kedekatan politik dengan pemerintahan yang sedang berjalan.
“Partai pendukung pemerintah tetap harus memiliki ruang untuk melakukan evaluasi dan kontrol. Justru kedewasaan politik akan terlihat ketika kepentingan partai dan kepentingan publik dapat ditempatkan secara proporsional,” ujar Suryaman.
Ia menilai Pemilu dan Pilkada 2029 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan Elita. Lima tahun ke depan harus dimanfaatkan untuk membangun fondasi organisasi, bukan sekadar mempersiapkan agenda elektoral menjelang pemilu.
“Kalau Golkar ingin melipatgandakan perolehan kursi, pekerjaan rumahnya bukan dimulai pada 2029, tetapi dimulai sekarang. Konsolidasi, kaderisasi, pemetaan pemilih, penguatan struktur sampai tingkat bawah dan kerja nyata di tengah masyarakat harus dilakukan secara konsisten,” pungkasnya.
Suryaman menyimpulkan, terpilihnya kembali Elita Budiati secara aklamasi dapat menjadi modal awal yang kuat, tetapi bukan jaminan keberhasilan. Kepercayaan internal tersebut harus dibayar dengan kinerja organisasi dan kemampuan membangun kepercayaan publik.
“Periode kedua ini harus menjadi periode pembuktian. Elita bukan lagi hanya diuji apakah mampu memimpin Golkar, tetapi apakah mampu membawa Golkar menjadi partai yang semakin kuat secara organisasi, semakin dipercaya masyarakat dan semakin kompetitif pada 2029,” tutup Suryaman. (**)
